Bandung, 30 Mei 2026_ – Pelantikan Gebu Minang Jawa Barat di Kota Bandung berlangsung khidmat sekaligus menggugah, setelah pengamat filsafat Rocky Gerung menyampaikan pidato kunci bertajuk “Bukan Budaya, tapi Pikiran”. Pernyataan itu langsung menjadi sorotan karena mengajak masyarakat Minangkabau kembali pada esensi berpikir kritis sebagai modal membangun bangsa.

### Inti Pidato: Kebudayaan Tanpa Pikiran Jadi Kosong

Dalam sambutannya di hadapan pengurus baru Gebu Minang Jabar dan ratusan undangan, Rocky Gerung menegaskan bahwa kebudayaan Minangkabau yang kaya adat, falsafah, dan tradisi akan kehilangan daya jika tidak dihidupkan oleh pikiran yang merdeka.


“Bukan budayanya yang menyelamatkan kita, tapi pikirannya. Kalau budaya diulang tanpa pikiran, dia jadi ritual kosong. Minangkabau besar karena tradisi berpikirnya: bertanya, merantau, berdialog, dan berfilsafat,” ujarnya disambut tepuk tangan hadirin.

Ia menyoroti falsafah “Alam takambang jadi guru” sebagai contoh konkret bagaimana masyarakat Minang sejak dulu dilatih berpikir, membaca alam, dan menarik kesimpulan. Menurutnya, inilah yang harus dihidupkan kembali di era digital agar generasi muda tidak terjebak dalam budaya ikut-ikutan tanpa nalar.


### Ajak Gebu Minang Jadi Rumah Berpikir

Rocky mendorong Gebu Minang Jawa Barat tidak hanya menjadi wadah silaturahmi dan pelestarian adat, tetapi juga “rumah berpikir” bagi perantau Minang di tanah Sunda. 

“Surau dulu adalah tempat orang berdebat gagasan sampai subuh. Kalau Gebu bisa menghidupkan kembali surau-surau intelektual itu, maka perantau Minang di Jabar akan jadi kekuatan besar, bukan hanya secara ekonomi tapi juga gagasan,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar tradisi musyawarah dan mufakat tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi budaya berpikir bersama dalam menyelesaikan persoalan sosial, pendidikan, hingga politik.

### Apresiasi Pengurus Baru